Pages

Showing posts with label Deskripsi. Show all posts
Showing posts with label Deskripsi. Show all posts

Friday, November 25, 2011

Deskripsi Kongkow, tema: "Kenapa Indonesia Ber-mazhab Mayoritas Syafi'i"

Pada minggu lalu kita telah berbincang mengenai Sekulaisme yang ditinjau dari kacamata Islam. Setiap orang terlihat memiliki persepsi/pandangan yang berdeda dalam memaknai Sekularisme, akan tetapi islam telah memiliki satu jalan yang utuh, sebagai pedoman hidup manusia untuk meraih kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat (kelak).

Dan untuk tema kongkow berikutnya, kita akan mencoba berbincang dan mengkaji kembali tentang Mazhab, dalam hal ini adalah mazhab Imam Syafi’I. Yang mana secara mayoritas hampir semua mayarakat Indonesia ber- mazhab Sayafi’i.

Adapun sub tema yang akan dibahas nanti, seputar: Sejarah perjalanan mengenai paham Syafi’iyah hingga menyebar ke Indonesia, biogerafi serta relevansi pemikiran imam syafi’I, tokoh serta metode dakwal yang digunakan saat itu. Dsb.

Sekilas mengenai keutamaan Imam Syafi’i, bahwa sejak berumur 9 tahun, beliau sudah mampu menghapal al-Qur’an secara utuh. Dan Imam Syafi’I merupakan peletak batu pertama yang mengarang ilmu Ushul Fiqh lewat kitabnya yang judul Ar Risaalah, dan kitab fiqih-nya yang sangat fundamental sekaligus menjadi rujukan ulama setelahnya yaitu kitab Al-Um.

Untuk mengkaji tema ini secara lebih berkesinambungan, nantikan dalam kongkow minggu depan yang bertemakan “Kenapa Indonesia Ber-mazhab Syafi’i (mayoritas)”. Terima kasih.

Cairo, 21 Nopember 2011
By: Didi Suardi

Tuesday, November 15, 2011

Deskripsi Kongkow, tema: "Sekularisme Dalam Kacamata Islam"

Pembahasan tema kali ini merupakan kebalikan dari pada tema sebelumnya yaitu Khilafah Islamiyah, yang mana legistimasi hukum (negara khilafah) selalu berlandaskan atas normatif agama (islam). Maka hal ini menarik dan penting untuk diperbincangkan, sebagai salah satu antisipasi dalam memahami berbagai gerakan, pandangan dan pemikiran liberal saat ini.

Dalam pemikiran islam kontemporer, tinjauan Sekularisme menjadi salah satu tema sentral para tokoh-tokoh liberalis di era globalisasi sekarang ini, yang mana dalam idiologi sekularisme tsb. mengusung sebuah kebebasan berpikir dan pendapat dalam segala bentuk dan asumsi, sebagai upaya untuk mendirikan institusi, lembaga ataupun negara, tanpa berlandaskan atas agama/kepercayaan.

Sekularisme pun diartikan sebagai sebuah ideologi  yang menolak adanya campur tangan nilai-nilai keagamaan dalam urusan manusia secara total, baik dalam lembaga ataupun negara, yang mana lebih memandang pada bukti konkret dan fakta.

Karena Sekularisme dibangun atas dasar pola pikir filosofis manusia sebagai makhluk rasionalis, maka hal ini mengakibatkan urgensi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai estetika, kian hari semakin berubah-ubah. karena tidak adanya kepercayaan akan sumber ketuhanan, sebagai sumber yang mutlak atas kebenarannya.

Maka pola pikir yang demikian, tanpaknya bertentangan dengan Firman Allah SWT dalam surah Al-Ahzab ayat 72, yang berbunyi: “Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh.”

Untuk berbincangan lebih lanjut, nantikan ini dalam kongkow episode minngu depan, dengan tema: "Sekulaisme dalam Kacamata Islam."

Cairo, 14 November 2011
By: Didi Suardi

Monday, November 7, 2011

Deskripsi Kongkow, tema: "Musik, Sejarah Hingga Peradaban Modern"

Seperti biasa, Para alumni Tebuireng yang tergabung dalam sebuah Organisasi almamater di Mesir. Kini, setiap minggunya mengadakan kumpul bareng yang dikemas dalam sebuah Kongkow, tujuan lain dari pada Konkow ini adalah untuk menyambung silaturahim dan bertukar pikiran.

Dan, Insya allah pada episode Rabu nanti, Kita akan mencoba berbicang dan mengkaji kembali seputar “Musik”, ditinjau dari ranah sejarah, filosofis, aliran/macam, hukum (menurut syari'at islam) hingga pengaruhnya terhadap peradaban Islam modern, yang mana musik sudah menjadi bagian dari pada romanitisme kehidupan.

Mengutip pendapatnya Socrates, seorang filosofis Yunani, ia mengatakan; “Bila seorang pria membiarkan musik membelainya, kemudian meresapi lagu-lagu yang bernuansa romantis, lembut, dan syahdu. Maka ia akan menjadi prajurit yang lemah”.

Ada pula, sebagian yang mengatakan bahwa musik itu haram (penulis mengalaminya langsung saat itu). Berarti (analoginya) jika musik itu haram, maka selama ini kami telah berbuat dosa, karena telah melakukan hal-hal yang diharamkan. (?)

Jika bercermin pada beberapa abad yang silam, banyak para ilmuan muslim yang koncen di bidang seni dan musik, seperti halnya: Ibnu Sina, di Barat ia lebih dikenal dengan nama Avicena, beliau mengarang sebuah buku yang lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diberi judul “Introduction to the Art of Music.”

Nama lain dari itu, seperti: al-Isfahani, ia pun mengarang sebuah buku yang kemudian juga ditejemakan ke dalam bahasa inggris, berjudul: “The Great Song of Music”

Untuk melengkapi instrument-instrumen, pendapat serta pandangan diatas, perlunya kita mengkaji dan berbincang secara lebih luas mengenai musik yang mana ditinjau dari berbagai aspek dan asumsi. Nantikan... dalam kongkow minggu depan dengan tema: “Musik, dari Sejarah Hingga Peradaban Modern”

Cairo, 06 November 2011. 21 55
By: Didi Suardi

Friday, October 28, 2011

Deskripsi Kongkow Mingguan, Tema: “Hijab, Jilbab dan Cadar, Dipandang dari Dua Sudut”.

Berangkat dari sebuah asumsi atas penafsiran Ayat-ayat al-Qur'an yang bekenaan dengan jilbab, cadar maupun kerudung, hingga hal ini memunculkan berbagai interpetasi yang berbeda serta beragam dikalangan para ulama.

Seperti halnya mengutip pendapat Dr. Quraish Shihab, yang menyatakan bahwa Jilbab itu tidak wajib. Begitu juga dengan Dr. Yusuf Qardowi, ia mengidentifikasikan bahwa Cadar adalah sebagian dari bid'ah karena hal itu bukan berasal dari ajaran agama islam, yang mengharuskan menutup seluruh permukaan dari ujung rambut hingga telapak kaki.

Terlebih, memandang sikap Gus Dur dalam memaknai Kerudung, sepintas Gus Dur seolah tidak mengharuskan kedua putrinya dalam pemakaian kerudung sebagai dasar dalam penutupan aurot, yang menurut sebagian ulama itu hukumnya wajib. Lantas, apa yang menjadi urgensi hujah mereka?

Satu kutipan ayat yang sering tampil menjadi hujah para ulama dalam pengistimbattan/pengambilan hukum hijab.

"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-isti orang mu’min, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”(QS Al Ahzab: 59).

Mungkin tidak ada yang salah pada ayat diatas, tetapi yang menjadi ruang hilafiyah saat ini adalah perbedaan penafsiran ayat dan pemaknaan hijab itu sendiri hingga memunculkan berbagai pandangan hukum menurut konteksnya masing-masing. 

Lantas bagaimana dengan pendapat ahli fikih mazhab empat dan golongan lain, seperti: Syi’ah, Khawriz dll. Selamat berbincang dan bernostagia dalam episode kongkow minggu depan edisi ke-4 yang bertemakan “Hijab, Jilbab dan Kerudung, Dipandang dari Dua Sudut”. Terima kasih dan sampai jumpa minggu depan.

Cairo, 13 oktober 2011.
By : Didi suardi

Thursday, October 6, 2011

Edisi Kongkow Bincang “Patung dan Sejenisnya”

Tradisi/budaya yang diusung oleh setiap daerah tentu akan berbeda dengan tradisi-tradisi yang lain, begitu juga denagan pandangannya masing-masing, hal ini lebih dipengaruhi oleh nilai-nilai keluhuran atau yang disebut sebagai warisan nenek moyang. Misalnya, tradisi di masyarakat Sunda tentunya akan berbeda dengan tradisi masyarakat Jawa, Betawi, Bali, Madura dsb.

Sejalan dengan berjalanya waktu, tradisi pun kini mulai terusik atau tergantikan oleh budaya baru/modren. Kita bisa melihatnya dari mulai cara berpakayan, pengunaan istilah/bahasa sampai dengan sajian makanan. Tapi walau begitu, masih ada sebagian masyarakat yang tetap mempertahankan tradisi dan budayanya. Seperti budaya pemembuat patung dan melestarikannya.

Hampir di berbagai daerah ditemukan simpol-simbol seperti itu, misalkan di daerah sunda terdapat patung Gajah mada, di Jakarta terdapat patung Mohammad Hata, begitu juga di Jogja, Surabaya, Bali dsb. Dan saat ini yang sedang menjadi perseteruan warga terjadi di sebuah kota, Puwokerto. Patung-patung di hacurkan dengan alasan tidak sejalan dengan nilai keislaman.
  
Dan yang lebih memperihatinkan lagi, aksi penghancuran tersebut di lakukan oleh ormas-ormas Islam, benarkah begitu? Dan bagaimana tanggapan ada? Selamat bernostagia dalam kajian kongkow minggu depan yang bertemakan “Patung dan Sejenisnya” (Patung, gambar, photo, lukisan, relive, monumen, tugu dll).

Cairo, 24 september 2011
By: Didi Suardi

Edisi Kongkow Bincang "Sihir, Azimat Dkk"

Pada Minggu lalu Kita telah membahas "Patung dan Sejenisnya", Satu penomena yang terbilang konterpersial antara penerapan hukum Islam dengan penomena yang terjadi di masyarakat. Terbukti, sebagian masyarakat masih tetap membuat dan melestarikan patung, baik sebagai simbol maupun aset kebudayaan, tapi tak terlepas dari itu sudah menjadi tugas para Ulama, Da'i, Mubalig dll agar mampu memahamkan dan meluruskan pemahaman yang betul kepada tiap masyarakatnya, tanpa disertai adanya paksaan, apalagi dengan kekerasan

Untuk edisi kongkow minggu depan kita akan mencoba berbincang kembali dengan tema "Sihir, Azimat Dkk". Ada yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang banyak terdapat kesyirikan, terlihat dari berbagai Ritual yang ganjil dan beragam, yang mana ritual-ritual yang mereka adakan itu tidak sesuai dengan ajarkan islam, Benarkah begitu?

Bukan hanya itu saja, sebagian orang rela mencari barang-barang yang menurut keyakinan mereka itu bisa menjaga dirinya, mendatangkan rizki, tolak balai', pengasihan dsb. Hingga dari yang berbentuk ali-ali, sabuk, kertas bertuliskan arab, tanah kuburan, kris sampai dengan khodam yang dimasukan kedalam tubuh. Lantas, bagaimana hukumnya... menurut pandangan para ulama. Tentunya Tema-tema yang akan bersingungan, diantaranya:
1. Santet/teluh
2. Primbon/zodiac
3. Rajah/azimat
4. Kejadugan dll.

Terima kasih dan sampai jumpa di kongkow minggu depan.

Cairo, 01 Oktober 2011
By: Didi Suardi